Kita berhak untuk berpendapat tapi tidak untuk menilai
Ya. Emang benar. Kita berhak berpendapat apapun, tapi tidak untuk menilai seseorang.
Karena tak ada satu manusia pun yg pantas merendahkan manusia yg lainnya, atau merasa lebih hebat/suci dari manusia yg lain.
Kenapa ini??
Kemaren entah kapan tepatnya, aku baca article tentang ukuran jilbab.
Timbul pertanyaan, apakah wanita yg berjilbab panjang lebih mulia dari mereka yg jilbabnya lebih pendek?
Apakah keimanan seseorang bisa dilihat dari jilbab yg dikenakannya?
Heuumm...
Kalo bagiku, kita tak bisa menilai keimanan seseorang hanya dari ukuran jilbabnya, biar Allah saja yg punya hak untuk menilai hamba Nya.
Ketika seorang akhwat dengan jilbab lebar dan panjangnya berani menjudge saudarinya yg berjilbab lebih pendek darinya dengan anggapan mereka yg mengenakan jilbab tak selebar dan sepanjang mereka adalah orang2 yg berada di bawah level mereka, sesungguhnya saat itu juga keimanan nya harus dipertanyakan!
Sekali lagi, tak ada yg berhak menjudge manusia didunia ini kecuali Allah, karena kita tak ada yg tau seperti apa akhir hidup ini. Dan Allah Sang Maha Pembolak balik hati hambaNya.
Jangan sibuk menilai orang lain, sibukkan saja berbenah diri sendiri. Itu lebih baik.
Well, ketika kita berbicara ukuran jilbab jadi teringat ayat Al-qur'an yg menampar hatiku untuk membenahi jilbab ku ;
"…Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al Ahzab 59)
Ahh.. Ya Rabb! Hingga detik ini hamba masih meneteskan airmata membaca ayat ini.
So, udah jelaskan! Allah menyeru para perumpuan beriman untuk mengulurkan jilbab mereka lebih panjang hingga menutupi dada mereka.
Selesai. titik. No tawar-tawar.
Jujur. Dulu. Entah kenapa selama aku memperhatikan para akhwat dengan jibab lebar mereka, aku gak pernah ngasih respon positif, bagiku mereka itu cuma mau bergaul dengan sesama pengguna jilbab lebar, cuma mau senyum, dan mengucap salam dengan sesama mereka. Pokoknya dimataku banyak negatifnya.
Tapi, aku gak bisa menutup mata, dan langsung berpendapat pukul rata begitu saja.
Karena didepan mataku ada akhwat berjilbab lebar, bersahaja, dan sangat tulus, yaitu kak Ira. Ahh.. Iya, kak Ira.
Sosok kakak mentoring yg dengan ikhlas hati berpanas-panasan datang ke sekolah kami demi membimbing kami di Rohis keputrian di zaman SMA.
Kak Ira dengan sabarnya membimbing kami tanpa imbalan apapun, dengan tulusnya membina kami adik2 nya ini yg teramat bandel. Yg kalo udah waktu nya keputrian punya seribu alasan utk gak datang. *kangen kak ira* :'(
Mana boleh aku melupakan sosok kak ira, dan karena itu image negatif yg ku bangun sedikit pudar tentang mereka yg jilbabnya lebar. :)
Kemudian, puncak image jelek itu hilang sama sekali ketika aku di ajak ibonk makan burger di tempat kawan ibonk kuliah, Subhanallah... Dia Bersahabat sekalii... Walau saat datang kesana hanya aku yg tak berjilbab seperti mereka namun dia begitu hangat padaku.
Perlahan, dengan cara Allah yg tak bisa dirumuskan oleh manusia, Allah memberikan hidayah kedalam hati ini, aku memutuskan untuk berjilbab lebih lebar dan menutupi dada pastinya. :)
Bukan karena ingin terlihat lebih mulia, bukan karena ingin tampak suci, atau paling alim, jilbab ku ini ku niatkan hanya karena Allah saja, toh predikat Mulia hanya Allah yg punya kuasa untuk memberikan kepada hambaNya, kenapa harus sok2an dimata manusia jika mungkin kita hina di mata Allah.
Cukup bagiku Allah saja yg menilai jilbab ini. :)
"jika jilbab, hanya sehelai kain ringan menutupi kepala, kenapa begitu berat kita menyempurnakannya? Semoga cinta kepada Nya mencukupkan niat." -- Asma Nadia
"Jika benar berpikir akhirat sebagai tujuan, lalu apa yg mencegahmu untuk segera menyempurnakan ketaatan?" -- Asma Nadia
0 komentar:
Posting Komentar